Assalamualaikum
sobat! Kembali lagi bersama Jannah. Kali ini jannah akan berbagi sejarah
tentang salah satu bukti sejarah yang ada dikota kelahiran Jannah Kota
Pangkalan Bun. Ini adalah bukti sejarah pada saat penjajahan belanda. Penasaran
carita nya? Cob abaca deh sobat! Semoga bisa menambah pengetahuan kalian yaa...
Selamat Membaca Sobat!
Palagan
Sambi
Sebuah
monumen bersejarah yang sangat penting bagi Kalimantan dan Negara Republik
Indonesia. Sebuah bukti sejarah yang di sebut sebagai Palangan Sambi. Pada monumen
tersebut terdapat prasasti perjuangan para pahlawan dalam membela dan
menegakkan Negara Republik Indonesia. Selain prasasti, juga terdapat kisah yang
digambarkan dengan sebuah cerita relief.
Relief
yang menceritakan kisah perjuangan pasukan Angkatan Udara dalam melawan
penjajahan belanda itu terdapat dipendopo yang terletak disisi belakang monumen.
Dan
tak kalah pentingnya adalah sebuah pesawat yang diabadikan ditengah taman
lapangan yang ada dihalaman pendopo. Pesawat itulah yang digunakan para pejuang
belanda. Monumen ini berupa pesawat terbang yang digunakan pada waktu itu. Yaitu
pesawat C4 Dakota RI-002. Pesawat itu ditopang oleh sebuah fondasi-penyangga
beton yang berdiri kokh diatas pelataran sebuah seluas 120 m2 (10 x 12 m). Monumen
ini dibangun pada tanggal 18 desember 1998 oleh Staf TNI-AU Marsekal Muda TNI
AU Hanafie Asnan.
Pesawat C4 Dakota RI-002 merupakan tugu peringatan
penerjunan pertama pasukan Angkatan Utara Republik Indonesia (AURI) pada masa
pergerakan atau revolusi melawan Belanda. Penerjunan ini dilakukan tepatnya
pada 17 oktober 1947 di Desa Sambi kecamatan Arut Utara kabupaten Kotawaringin
Barat. Yang menarik, 13 orang pasukan yang diterjunkan pada waktu itu tidak
semua tentara. Mereka ada yang putra asli Kalimantan, ada yang dari Sulawesi
dan ada juga yang dari Jawa. Mereka adalah Heri Hadi Sumantri ( montir radio
AURI asal Semarang), FM Suyoto ( Juru radio AURI asal Ponorego), Iskandar ( pimpinan
pasukan), Ahmad Kokasih, Bachri, J.Bitak, C. Williem, Imanuel Nuhan, Amirudin
Ali Akbar, M.Dahlan, JH. Mayor Udara Cilik Riwut kalimantan diangkat sebagai
perwira operasi. Semua belum pernah mendapat pendidikan Secara sempurna kecuali
mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat (ground Tranning). Bahkan ada
seorang anggota pasukan yang bernama Jamhani batal terjun karena takut.
Pasukan ini akan bertugas menyusun gerilyawan,
membantu perjuangan rakyat Kalimantan, membukan stasiun radio induk untuk
menghubungkan antara Yogyakarta dan Kalimantan. Selain itu, pasukan ini juga
mempersiapkan serta menyempurnakan daerah penerjunan. Pasukan ini diterjunkan
dengan menggunakan pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan oleh Bob
freeberg berkebangsaan Inggris sekaligus pemilik pesawat tersebut. Bertindak
sebagai Co Pilot Opsir (udara) II Suhodo, Jump Master Opsir Muda (udara) III
Amir Hamzah. Bertindak sebagai petunjuk daerah penerjunan adalah Mayor Udara
Cilik Riwut yang merupakan putra asli Kalimantan.
Penerjunan ini adalah operasi lintas udara pertama
dalam sejarah Indonesia. Awalnya pasukan akan diterjunkan di daerah Sepanbiha,
Kalimantan Selatan. Namun karena cuaca yang buruk dan kondisi berhutan lebat
mengakibatkan Mayor Udara Cilik Riwut kebingungan menentukan daerah penerjunan.
Sehingga pasukan di terjunkan di Desa Sambi yang letaknya terlalu jauh dari
kota markas belanda. Pada 17 Oktober 1947 pasukan diterjunkan di Desa Sambi
tidak jauh dari desa Pangkut Arut Utara. Untuk menuju markas belanda di dalam
kota, pasukan ini bergerilya melewati hutan. Tetapi akibat pengkhianatan
seorang kepala desa setempat, pasukan ini pada tanggal 23 November 1947 di
sergap tentara Belanda. Akibatnya 3 orang gugur diantaranya Heri Hadi Sumantri,
Iskandar, dan Ahmad Kokasih. Sedangkan yang lain berhasil lolos dan melanjutkan
gerilya. Tetapi akhirnya setelah beberapa bulan mereka juga berhasil ditangkap
tentara Belanda. Dalam pengadilan Belanda tidak dapat membuktikan bahwa mereka
adalah pasukan yang diterjunkan untuk melawan Belanda. Akhirnya mereka di hukum
sebagai seorang kriminal bebas biasa. Mereka di bebaskan setelah menjalani
hukuman selama 1 tahun.
Peristiwa penerjunan yang dilakukan oleh 13 orang
ini merupakan peristiwa lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara
Republik Indonesia. Tanggal 17 Oktober 1947 selanjutnya ditetapkan sebagai hari
jadi Komando pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) yang sepakat dikenal dengan Korps
Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Kospaskhas). Dan jika tidak ada penerjunan
ini, jika tidak karena jasa pesawat C-47 Dakota RI-002 beserta pasukannya,
kemungkinan daerah ini samapi sekarang menjadi jajahan belanda.
Dengan Monumen Palagan Sambi ini, seluruh warga
Kotawaringin Barat khususnya dan warga Indonesia umumnya, menghargai dan
menghormati jasa para pahlawan yang telah membebaskan bangsa ini dari penjajah
Belanda! Nama Monumen sendiri disesuaikan dengan nama desa tempat penerjunan
itu dilakukan, yaitu Desa Sambi. Monumen yang memiliki halaman luas ini, setiap
harinya juga dijadikan arena/taman rekreasi. Kadang pada hari-hari tertentu,
halaman pendopo dipakai untuk menggelar berbagai acara termasuk senam pagi pada
hari minggu pagi. Selain melihat diorama sejarah perjuangan, warga juga bisa
berkeliling menikmati taman. Pada sore hari dan malam hari, kawasan ini menjadi
pusat rekreasi bagi anak-anak dan pelajar. Tidak ketinggalan, jika malam tiba,
kawasan Monumen Palagan Sambi ini menjadi pusat rekreasi dan kuliner. Berbagai
jajanan dan makanan bisa kita nikmati di lokasi ini hingga tengah malam.
Jumpa
lagi sobat, Bye! Wassalamualaikum^^
Sumber
Buku
Pariwisata KOTAWARINGIN BARAT sebuah buku panduan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar