Senin, 02 November 2015

Monumen Palagan Sambi



Assalamualaikum sobat! Kembali lagi bersama Jannah. Kali ini jannah akan berbagi sejarah tentang salah satu bukti sejarah yang ada dikota kelahiran Jannah Kota Pangkalan Bun. Ini adalah bukti sejarah pada saat penjajahan belanda. Penasaran carita nya? Cob abaca deh sobat! Semoga bisa menambah pengetahuan kalian yaa... Selamat Membaca Sobat!
Palagan Sambi
Sebuah monumen bersejarah yang sangat penting bagi Kalimantan dan Negara Republik Indonesia. Sebuah bukti sejarah yang di sebut sebagai Palangan Sambi. Pada monumen tersebut terdapat prasasti perjuangan para pahlawan dalam membela dan menegakkan Negara Republik Indonesia. Selain prasasti, juga terdapat kisah yang digambarkan dengan sebuah cerita relief.
Relief yang menceritakan kisah perjuangan pasukan Angkatan Udara dalam melawan penjajahan belanda itu terdapat dipendopo yang terletak disisi belakang monumen.
Dan tak kalah pentingnya adalah sebuah pesawat yang diabadikan ditengah taman lapangan yang ada dihalaman pendopo. Pesawat itulah yang digunakan para pejuang belanda. Monumen ini berupa pesawat terbang yang digunakan pada waktu itu. Yaitu pesawat C4 Dakota RI-002. Pesawat itu ditopang oleh sebuah fondasi-penyangga beton yang berdiri kokh diatas pelataran sebuah seluas 120 m2 (10 x 12 m). Monumen ini dibangun pada tanggal 18 desember 1998 oleh Staf TNI-AU Marsekal Muda TNI AU Hanafie Asnan.


Pesawat C4 Dakota RI-002 merupakan tugu peringatan penerjunan pertama pasukan Angkatan Utara Republik Indonesia (AURI) pada masa pergerakan atau revolusi melawan Belanda. Penerjunan ini dilakukan tepatnya pada 17 oktober 1947 di Desa Sambi kecamatan Arut Utara kabupaten Kotawaringin Barat. Yang menarik, 13 orang pasukan yang diterjunkan pada waktu itu tidak semua tentara. Mereka ada yang putra asli Kalimantan, ada yang dari Sulawesi dan ada juga yang dari Jawa. Mereka adalah Heri Hadi Sumantri ( montir radio AURI asal Semarang), FM Suyoto ( Juru radio AURI asal Ponorego), Iskandar ( pimpinan pasukan), Ahmad Kokasih, Bachri, J.Bitak, C. Williem, Imanuel Nuhan, Amirudin Ali Akbar, M.Dahlan, JH. Mayor Udara Cilik Riwut kalimantan diangkat sebagai perwira operasi. Semua belum pernah mendapat pendidikan Secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat (ground Tranning). Bahkan ada seorang anggota pasukan yang bernama Jamhani batal terjun karena takut.
Pasukan ini akan bertugas menyusun gerilyawan, membantu perjuangan rakyat Kalimantan, membukan stasiun radio induk untuk menghubungkan antara Yogyakarta dan Kalimantan. Selain itu, pasukan ini juga mempersiapkan serta menyempurnakan daerah penerjunan. Pasukan ini diterjunkan dengan menggunakan pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan oleh Bob freeberg berkebangsaan Inggris sekaligus pemilik pesawat tersebut. Bertindak sebagai Co Pilot Opsir (udara) II Suhodo, Jump Master Opsir Muda (udara) III Amir Hamzah. Bertindak sebagai petunjuk daerah penerjunan adalah Mayor Udara Cilik Riwut yang merupakan putra asli Kalimantan.
Penerjunan ini adalah operasi lintas udara pertama dalam sejarah Indonesia. Awalnya pasukan akan diterjunkan di daerah Sepanbiha, Kalimantan Selatan. Namun karena cuaca yang buruk dan kondisi berhutan lebat mengakibatkan Mayor Udara Cilik Riwut kebingungan menentukan daerah penerjunan. Sehingga pasukan di terjunkan di Desa Sambi yang letaknya terlalu jauh dari kota markas belanda. Pada 17 Oktober 1947 pasukan diterjunkan di Desa Sambi tidak jauh dari desa Pangkut Arut Utara. Untuk menuju markas belanda di dalam kota, pasukan ini bergerilya melewati hutan. Tetapi akibat pengkhianatan seorang kepala desa setempat, pasukan ini pada tanggal 23 November 1947 di sergap tentara Belanda. Akibatnya 3 orang gugur diantaranya Heri Hadi Sumantri, Iskandar, dan Ahmad Kokasih. Sedangkan yang lain berhasil lolos dan melanjutkan gerilya. Tetapi akhirnya setelah beberapa bulan mereka juga berhasil ditangkap tentara Belanda. Dalam pengadilan Belanda tidak dapat membuktikan bahwa mereka adalah pasukan yang diterjunkan untuk melawan Belanda. Akhirnya mereka di hukum sebagai seorang kriminal bebas biasa. Mereka di bebaskan setelah menjalani hukuman selama 1 tahun.
Peristiwa penerjunan yang dilakukan oleh 13 orang ini merupakan peristiwa lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara Republik Indonesia. Tanggal 17 Oktober 1947 selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Komando pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) yang sepakat dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Kospaskhas). Dan jika tidak ada penerjunan ini, jika tidak karena jasa pesawat C-47 Dakota RI-002 beserta pasukannya, kemungkinan daerah ini samapi sekarang menjadi jajahan belanda.



Dengan Monumen Palagan Sambi ini, seluruh warga Kotawaringin Barat khususnya dan warga Indonesia umumnya, menghargai dan menghormati jasa para pahlawan yang telah membebaskan bangsa ini dari penjajah Belanda! Nama Monumen sendiri disesuaikan dengan nama desa tempat penerjunan itu dilakukan, yaitu Desa Sambi. Monumen yang memiliki halaman luas ini, setiap harinya juga dijadikan arena/taman rekreasi. Kadang pada hari-hari tertentu, halaman pendopo dipakai untuk menggelar berbagai acara termasuk senam pagi pada hari minggu pagi. Selain melihat diorama sejarah perjuangan, warga juga bisa berkeliling menikmati taman. Pada sore hari dan malam hari, kawasan ini menjadi pusat rekreasi bagi anak-anak dan pelajar. Tidak ketinggalan, jika malam tiba, kawasan Monumen Palagan Sambi ini menjadi pusat rekreasi dan kuliner. Berbagai jajanan dan makanan bisa kita nikmati di lokasi ini hingga tengah malam.
Jumpa lagi sobat, Bye! Wassalamualaikum^^
Sumber
Buku Pariwisata KOTAWARINGIN BARAT sebuah buku panduan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar